Selamat Datang di Blog Saya
Posted by : Unknown Sabtu, 21 November 2015





Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa
Judul                           : 99 Cahaya Dilangit Eropa
Pengarang                   : Hanum Salsabiela Rais dan  
                                     Rangga Almahendra
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Tempat terbit               : Jakarta
Tahun terbit                 : November 2013
Jumlah halama             : 340 halaman

Buku berjudul “99 Cahaya Dilangit Eropa” karya Hanum Salsabiela Rais dan suaminya, Rangga Almahendra merupakan karya berbentuk novel yang kemudian di filmkan oleh salah satu rumah produksi perfilman. Buku ini berisi kisah-kisah perjalanan kedua penulis selama berada di Eropa. Hanum dan Rangga tinggal selama 3 tahun di Eropa saat Rangga mendapat beasiswa program doktoral di Universitas di Austria. Keduanya berkesempatan menjelajahi Eropa dan menemukan keindahan Eropa yang tidak sekadar hanya Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma atau gondola-gondola di Venezia. Namun, mereka menemukan keindahan lain dari Eropa, mereka menjelajah sejarah dan menemukan bahwa Islam pernah berjaya di tanah itu. Eropa dan islam pernah menjadi pasangan serasi. Namun, ketamakan manusia membuat dinasti itu runtuh. Melalui buku ini, penulis ingin menceritakan tentang beberapa tempat dimana islam mempunyai kisah yang cukup menarik didalamnya. Kisah-kisah dari beberapa tempat didalamnya yang bisa membuat penulis dan pembaca enggan untuk melakukan kesalahan yang sama. Tempat itu antara lain Wina (Austria), Paris (Perancis), Granada dan Cordoba (Andalusia/Spanyol), dan Istanbul (Turki). Ringkas ceritanya sebagai berikut:
Selama kursus itulah Hanum berkenalan dengan Fatma, wanita asal Turki yang berhasil menggugah jiwa kelana Hanum untuk menyusuri jejak islam di Eropa. Fatma yang notabene hanya seorang ibu rumah tangga ternyata memiliki wawasan luas tentang sejarah Islam di Eropa. Bukan hanya itu, kebesaran hati seorang Fatma yang menerima cerca dari kalangan non muslim menyadarkan Hanum, bahwa Islam seharusnya dimaknai luar dan dalam. Bukan sekedar casing yang islam, namun jiwa dan pikiran kaum bar-bar. Sayangnya Fatma tiba-tiba menghilang setelah mereka mengikat janji akan berkelana bersama menapaki jejak islam yang ada di Spanyol, Perancis, dan Turki yang pernah berjaya pada masanya. Demi memenuhi janji itu Hanum kemudian mulai menjelajah sendiri bersama suami.
     Tempat kedua yang diceritakan penulis adalah Paris, Perancis. Kota ini dikenal City of Lights, yang berarti pusat peradaban Eropa. Di Paris, Hanum bertemu dengan seorang mualaf, Marion Latimer yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris. Marion menunjukkan kepada penulis bahwa Eropa adalah pantulan cahaya kebesaran Islam. Eropa menyimpan harta karun sejarah Islam yang luar biasa berharganya. Seperti kufic-kufic pada keramik yang berada di Museum Louvre. Yang lebih mencengangkan Hanum, pada lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus, hijab yang dipakai Bunda Maria bertakhtakan kalimat tauhid, “Laa ilaaha illallah”. Selain benda-benda kecil didalam Museum Louvre, Marion juga memberi tahu tentang Voie Triomphale atau Jalan kemenangan yang dibuat Napoleon Bonaparte, tempat dua gerbang kemenangan (arc du triomphe) yang sangat megah. menurut Marion, bila ditarik garis lurus imajiner maka akan menghadap arah kiblat. Mungkin akan menjadi konspirasi apabila Eropa mengakui Napoleon beragama Islam, tapi kedekatan beliau dengan Islam tak terbantahkan. Selain itu, Jenderal kepercayaan Napoleon, Francois Menou mengucapkan Syahadat setelah menaklukan Mesir dan syariat-syariat islam juga menginspirasi Napoleonic Code.
     Setelah ke Paris, mereka selanjutnya menjelajahi Cordoba dan Granada. Dua kota di Andalusia yang menurut beberapa ahli adalah True City of Lights. Cordoba merupakan ibukota Andalusia dimana peradaban Eropa dimulai. Pada kota ini berkembang ilmu pengetahuan dan menginspirasi kota-kota lain di Eropa. Pada masa keemasan itu, Cordoba bukan negara islam seluruhnya, namun toleransi antar agama menjadi suatu landasan kuat hingga menjadi kota yang sangat dikagumi sekaligus membuat iri kota- kota lain. di Cordoba terdapat Mezquita, yaitu masjid besar yang menjadi Kathedral setelah jatuh ke tangan Raja Ferdinand dan ratu Isabela. Sementara itu Granada adalah kota terkahir dimana islam takluk di daratan Eropa. di Granada terdapat benteng megah yang menjelaskan betapa megahnya Islam di masa keemasan.
     Selanjutnya mereka berkesempatan menjelajahi Istanbul. Istanbul/ Kontatinopel adalah saksi sejarah dimana Islam pernah memiliki masa keemasan. Pada masa itu, luas wilayah Islam lebih luas dari kerajaan Romawi. Namun, di Turki tidak ditinggalkan istana yang megah, bukan karena tidak mampu melainkan karena Sultan mereka mencontohkan kesederhanaan. Sesuatu hal yang mulai dilupakan pemimpin-pemimpin saat ini. Di Turki juga terdapat Hagia Sophia, bekas gereja besar dan sempat dijadikan masjid. Namun kini telah dijadikan museum oleh pemerintah Turki.
Novel ini digarap oleh Hanum dan Rangga dengan sangat bagus. Hal itu tampak dari konsistennya pengarang dalam menggarap unsur intrinsiknya. Misalnya dari watak tokoh yang ada. Tokoh dalam cerita ini berwatak selalu ingin tahu tentang Islam dari awal hingga akhir cerita. Watak tersebut digambarkan sedikit demi sedikit oleh pengarang ketika tokoh menyusuri Islam di Eropa.
Selain penggarapan watak tokoh, kelebihan novel Hanum dan Rangga juga dapat dilihat dari tema dan amanatnya. Amanat yang menyarankan kepada  kita untuk mengamalkan Islam secara total melalui perilaku yang mencerminkan Islam.
Dengan melihat kenyataan itu, patutlah kiranya novel itu dibaca oleh kalangan apa saja.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Petualangan adalah Pengalaman - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -